Satu tahun lebih Pandemi Virus Corona atau covid 19 menghantui kita. Seluruh dunia merasakan hal yang sama. Di Indonesia Covid pertama kali terdeteksi dan diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020.
Sejak hari itu, jumlah kasus positif Corona meningkat dan terus bertambah. Banyak pasien Covid yang meninggal dunia, namun tidak sedikit pasien yang mendapatkan kesembuhan.
Terhitung sampai hari Selasa, 16 Maret 2021, Kasus positif Covid-19 bertambah dari 5.414 menjadi 1.430.458 kasus. Pasien sembuh bertambah dari 7.716 menjadi 1.257.663 orang. Pasien meninggal bertambah dari 180 menjadi 38.753 orang. (merdeka.com)
Perusahan besar maupun kecil banyak yang gulung tikar. Para pekerja banyak yang dirumahkan. Kehidupan semakin sulit. Sementara memenuhi kebutuhan keluarga harus tetap ditunaikan. Kondisi mencekam seperti ini tidak sedikit orang merasa pesimis. Sebagiannya mengakhiri hidup karena sudah tidak mampu lagi menahan beban dan tekanan hidupnya.
Seorang muslim dalam kondisi sesulit apapun harus tetap optimis. Suri tauladan umat Islam Rasulullah SAW mencontohkan di awal dakwahnya di Makkah dimana masa sulit melanda. Beliau dan para sahabatnya dimusuhi, dicaci maki, bahkan diperangi. Penghinaan dan tekanan dari kafir Quraisy begitu dahsyat, tetapi apakah Rasulullah jadi pesimis dan mundur dari jalan dakwah? Tidak!
Baginda Rasulullah SAW menunjukan sikap optimisnya dengan tetap melangkah memilih jalan hijrah ke thaif, walaupun perlakuan di sana sama halnya dengan yang dialaminya di Makkah. Kondisi seperti ini menunjukkan keyakinan beliau akan pertolongan Allah. Terbukti, dua Malaikat menawarkan untuk menimpakan dua gunung besar kepada penduduk Thaif. Tidak disangka jawaban yang sangat indah keluar dari mulut beliau; "Jangan, semoga lahir dari keturunan mereka yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya." (HR Bukhari).
Kehadiran optimisme dalam jiwa sangat penting dalam menjalani putaran roda kehidupan. Karena di dunia ini pasti kita dihadapkan dalam dua sisi yang berbeda: yaitu senang dan susah, bahagia dan sedih dan seterusnya.
Menghadirkan sikap optimis dikala kondisi senang mungkin sudah biasa. Tetapi dikala susah optimis tidak mudah menghadirkannya, karena yang ada dalam fikiran adalah bayangan kegagalan dan keterpurukan. Padahal salah satu faktor bangkitnya diri dari kegagalan dan keterpurukan adalah optimis.
Allah SWT. Berfirman :
"Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang berima." (QS. Ali Imran: 139)
Optimis berbanding lurus dengan berfikir positif. Orang yang memiliki sikap optimis memiliki pandangan akan masa depan yang baik dan sudut pandang yang positif setiap menghadapi perkara apa pun. Masa pandemi yang menciptakan berbagai permasalahan hidup bukanlah sebuah masalah besar bagi jiwa-jiwa optimis.
Jiwa-jiwa optimis menjadikan setiap permasalahan menjadi sebuah peluang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits: "Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung".(hadits riwayat siapa?
Jiwa-jiwa optimis selalu bersangka baik kepada Allah SWT. Karena yakin bahwa setiap usaha dan sesuatu yang terjadi berada dalam genggaman-Nya. Allah SWT berfirman : "Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu". (QS. At Thalaq: 3)
Jiwa-jiwa optimis selalu percaya diri, berani dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi setiap kesulitan. Jiwanya melambung tinggi, terus berusaha pantang menyerah guna mencapai tujuan dan cita-cita hidupnya. walaupun problematika hidup yang dihadapinya begitu berat.
Kondisi pandemi saat ini menuntut kita untuk selalu bersikap optimis agar dapat melalui musibah ini dengan kelapangan hati. Sehingga insya Allah akan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat.
Optimisme (Sikap Optimis) merupakan keyakinan diri dan salah satu sikap baik yang dianjurkan dalam Islam. Dengan sikap optimistis, seseorang akan bersemangat dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.
Allah Subhânahu Wa Ta’âla telah berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ”
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Âli ‘Imrân [3]: 139)
Optimisme merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap manusia, khususnya seorang Muslim. Karena dengan optimistis, seorang Muslim akan selalu berusaha semaksimal mungkin mencapai cita-cita dengan penuh keikhlasan karena Allah.
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun – dalam hal ini — juga pernah bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “
Mukmin (orang yang beriman) yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Pada diri masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu’. Tetapi katakanlah; ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘lau’ (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan setan.” (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 56, hadits no. 6945)
Dari ayat dan hadis tersebut di atas, kita harus yakin, mantap, dan tidak ragu atau bimbang jika memunyai keinginan yang kuat untuk melaksanakan segala cita-cita yang sesuai dengan jalan-Nya. Allah tidak menyukai orang-orang yang berputus asa atau lemah, karena sikap yang demikian itu berpeluang untuk “membuka pintu bujuk rayu setan.”
Tags:
(0) Comments